MENITI JALAN “TAWAKAL”

web1Oleh : Abdul Muiz Hazin

Dalam meniti gerak kehidupan, setiap manusia pasti akan menemui banyak cobaan yang berupa rintangan dan halangan. Banyak sekali cobaan kehidupan yang menjerumuskan manusia ke alam kenistaan, kahidupan yang tidak hanya memberikan beban berat kepada manusia, akan tetapi juga menjadikan manusia kehilangan kendali diri, sehingga menjadikan mereka kehilangan identitas diri, bahkan kehilangan eksistensi dirinya sebagai manusia. Saat permasalahan hidup datang silih berganti, membelit dan menjadi beban, semua pintu keluar terlihat buntu, kadang manusia akan semakin tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Begitu pula ketika kesedihan sedang mendera atas musibah-musibah yang menimpa, manusia merasa tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk meringankan beban perasaan.
Fenomena modernitas yang merupakan gerak kemajuan zaman sebagai hasil pemikiran manusia dalam usaha mencapai kehidupan yang lebih mudah dan sejahtera, ternyata banyak memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang lebih kompleks. Berbagai permasalahan yang bahkan memberikan beban yang berlipat ganda kepada manusia lahir mengiringi mega proyek modernitas ini. Tetap saja manusia tidak mampu keluar dari banyak persoalan dan beban hidup yang menyertainya, bahkan era modern telah menghilangkan sisi kemerdekaan identitas diri manusia dan menjadikan manusia terpenjara arus model dan mode yang didektikan oleh control kepentingan material pihak tertentu.
Makna Tawakal
Berusaha menjalani hidup dengan tegar adalah tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, usaha dan ikhtiyar adalah satu jalan yang harus ditempuh manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal. Berfikir, berkreasi, berkarya dan melahirkan hal-hal yang positif adalah kehendak Allah, ketika mewakilkan kepada manusia untuk membangun bumi ciptaannya.
Perjalanan menuju kesuksesan ideal, menjadi manusia seutuhnya sebagai manusia yang hakiki, tidak bisa hanya berpegang pada kemampuan akal-fikiran, karena pada banyak sisi manusia adalah ciptaan yang terbatas, yang banyak mempunyai sisi kelemahan dan akan selalu berhadapan dengan banyak cobaan, permasalahan, rintangan dan halangan.
Pada sisi ini, Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan jalan keluar, jalan yang sesuai dengan fitrah manusia, jalan yang pada hakikatnya ada dalam diri manusia. Islam mengingatkan manusia akan kesempurnaan dan kebesaran Tuhannya, dan juga mengingatkan manusia akan kelemahan dirinya sebagai makhluk yang terbatas, makhluk yang lemah yang harus mempunyai sandaran kokoh dalam menjalani kehidupan. Keangkuhan, egoisme diri, merasa paling benar dan ambisi yang tidak terkontrol malah akan menjerumuskan manusia ke dalam lembah kegagalan, lembah kenistaan dan terpendam dalam kekosongan eksistensi dirinya sebagai manusia.
Mencurahkan segala kemampuan dirinya dalam melakukan usaha dan ikhtiyar dengan dibarengi kepasrahan diri dan bertawakal kepada Allah adalah satu jalan fitrah yang diajarkan Islam kepada manusia. Secara esensial (hakiki) tawakal adalah kondisi ruhani yang lahir dari tauhid yang terwujud dalam amal nyata. Secara etimologi, Istilah “tawakal” berasal dari kata “tawakala” yang memiliki arti menyerahkan, mempercayakan, dan mewakilkan. Secara umum tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Menurut imam al-Ghazali tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadanya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram. Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa tawakal merupakan aktivitas hati, perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh dan juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.
Sedangkan syeikh Zakariya al-Anshori mendefinisikan tawakal sebagai keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada Yang lain, suatu sifat yang timbul karena rasa percaya kepada Yang diserahi urusan, karena Dia dapat memberikan rasa aman dan tentram kepada orang yang memasrahkannya. Imam Ibnu Qoyim al-Jauzi, berpendapat bahwa tawakal adalah amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah swt, berlindung hanya kepada-Nya dan rela atas sesuatu yang menimpa dirinya yang tentu saja berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan sebab atau faktor-faktor yang mengarahkannya pada sesuatu yang dicarinya, serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.
Jalan Tawakal
Alangkah butuhnya seorang hamba akan sandaran atas kelemahan dirinya, bersandar kepada Dzat yang pantas untuk dijadikan sandaran, bukan hanya dalam perolehan rizki saja, tapi dalam setiap langkah menempuh jejak kehidupan, melangkah dalam keadaan ridha dan diridhai Allah, dan pada akhirnya, berjalan menuju Allah, bertemu dengan-Nya dalam keadaan ridha dan mendapatkan ridha-Nya.
Tawakal adalah jalan menuju kepada-Nya, jalan yang merupakan ibadah hati, jalan yang secara lahir tidak terlihat, jalan yang hanya bisa dirasa dengan hati yang ikhlas, jalan yang memberikan ketenangan. Karena orang yang bertawakal kepada Allah berarti memasrahkan nasib dan urusannya hanya kepada-Nya, hanya kepada yang Mahakaya, Mahasempurna dan Mahakuasa atas segalanya.
Bukan saja memberikan ketenangan, jalan tawakal juga akan memberikan kekuatan jiwa. Karena fitrah manusia akan merasa kuat apabila ada sandaran dari pihak yang kuat, dan tidak ada kekuatan yang lebih kuat dari Dzat yang dijadikan sandaran oleh orang-orang beriman. Allah Mahakuat dan mahakuasa untuk berbuat apapun, kapanpun, di manapun dan kepada siapapun. Jalan tawakal dengan puncak keikhlasan inilah yang menjadi rahasia kemenangan perang Badar, seperti yang Allah kisahkan dalam surat Al Anfal ayat 9 – 10.
Dengan demikian, tawakal mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan keseharian manusia. Jalan tawakal memberikan rasa aman, memberikan rasa tenang dan juga memberikan kesadaran akan diri untuk tidak terbelenggu oleh sang AKU. Dengan memiliki sifat tawakal, seseorang menyadari bahwa hasil usaha yang dilakukannya tidak serta merta berdiri-sendiri akibat usahanya semata, namun di sana terdapat ‘faktor luar’ yang Maha bijak ikut andil menentukan hasil tersebut. Berbekal ketawakkalan, seseorang menyadari bahwa dirinya bukanlah pusat penentu dari hasil kerjanya, ia perlu bantuan Allah yang menyebabkan ingatannya (dzikir) kepada Allah terus berlangsung dan tetap terjaga.

Testimoni

You must be logged in to post a comment.