IBADAH HAJI DAN REALITAS SOSIAL

Oleh : Abdul Muiz Hazin

Ibadah haji adalah ibadah yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan agama atau Tuhannya saja, melainkan juga manusia dengan manusia yang lainnya. Ibadah haji memiliki dua garis penghubung kemanusiaan, yakni garis vertical (hablun min Allah) dan horizontal (hablun min an-nas). Garis vertical ibadah haji adalah hubungan manusia dengan Tuhannya. Sementara garis horizontal ibadah haji adalah sisi sosial manusia sebagai makhluk sosial di dunia ini, yakni hubungan di antara manusia umumnya dan umat Islam khususnya.
Dalam pelaksanaan dan penghayatan ibadah haji, dimensi vertikal dan dimensi horisontal harus berjalan selaras dan seimbang. Dimensi vertikal yang disimbolkan dengan ketundukan kepada sang pencipta dan penafian terhadap segala nafsu duniawi selama menjalankan ritual ibadah haji, merupakan implementasi dari sikap taat terhadap Allah. Sedangkan dimensi horizontal tercermin dari sikap solidaritas sosial sesama manusia berupa pengakuan akan kesetaraan, persamaan derajat dan kesadaran akan eksistensi kemanusiaan.
Ibadah haji merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Dengan demikian, pelaksanaan ibadah adalah upaya untuk melakukan transendensi, refleksi, apresiasi, sekaligus mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial.
Oleh karenanya, ritual ibadah haji bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban seorang Muslim sebagai umat beragama Islam saja, atau hanya berziarah ke tempat sakral secara spiritual dan syari’at, ataupun sekadar melaksanakan ajaran agama, apalagi hanya demi kepentingan status social dan mencari popularitas dalam menggapai ambisi politis. Akan tetapi makna ibadah haji yang sebenarnya adalah usaha menggali nilai-nilai individual dan sosial yang luhur dan mulia.

Komintmen Kemanusiaan
Pelaksanaan ibadah haji dan semua ibadah pada kenyataannya tidak mempunyai efek apapun bagi kebesaran sang maha Pencipta, pelaksanaan semua ibadah, termasuk ibadah haji akan mempunyai nilai dan makna yang kembali kepada pelaksananya. Salah satu makna ibadah haji adalah merupakan wahana latihan bagi manusia untuk meningkatkan kualitas kesalehan sosial, seperti meredam keangkuhan, keserakahan, dan keinginan menindas terhadap sesama. Hal ini antara lain disimbolkan melalui pakaian yang dikenakan. Pakaian ihram yang sederhana yang tidak mencerminkan strata sosial diri masing-masing, mempunyai makna persamaan dari sisi kemanusiaan, persaudaraan, rasa solidaritas, dan kepekaan yang tinggi terhadap sesama. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ali Syariati bahwa pakaian melambangkan preferensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu.
Haji merupakan bagian dari serangkaian perjalanan menuju Allah Swt. Yang Mahasuci. Karena itu, manusia yang ingin menghadap-Nya kelak diharuskan dalam keadaan suci lahir batin. Kesucian lahir-batin tersebut yang mendorong diterimanya ibadah haji menjadi haji mabrur, sedangkan haji mabrur akan mendorong manusia-manusia Muslim menunjukkan identitas-identitas diri yang bermasyarakat. Identitas diri yang bisa terjun ke dunia realitas. Bagaimana yang miskin bisa dibantu dan diangkat dari penderitaan dan kesusahan. Selepas haji, manusia menunjukkan identitas kemanusiaannya, yakni menjadi peka terhadap orang-orang dan lingkungannya.
Nurcholish Madjid berpendapat bahwa salah satu fungsi fundamental dari haji sebenarnya berpretensi pada adanya pola transformasi social yang berpusat pada lahirnya aspek hablumminannas, sehingga cukup miris jika melihat kondisi bangsa ini yang masih bergelut dengan kemiskinan, tetapi pada saat yang sama kesenjangan social dan kemiskinan terus mengalir tak berkesudahan.
Jika dilihat secara lebih mendalam lagi, dari format ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang sangat menjunjung asas kemanusiaan, maka akan banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab tentang realitas pelaksanaan haji di Indonesia. Dalam tradisi keislaman, manusia diciptakan sebagai makhluk yang utuh dan peka terhadap realitas sosial. Sehingga, ketika Tuhan memberikan kemampuan finansial untuk berangkat ke Tanah Suci, tetapi kemudian lupa untuk berkontribusi dalam ranah sosial, maka jelas basis keislaman yang mengalir patut dipertanyakan.

Komintmen Persatuan dan Persaudaraan
Ibadah haji adalah ibadah yang juga menjadi sarana bagi seluruh umat muslim untuk berkumpul di satu tempat, saling berta’aruf, belajar, dan saling memberi pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu makna sosial ibadah haji yang menghubungkan antara manusia dan manusia lainnya sebagai makhluk social, yang paling tidak dapat memberikan pencerahan terhadap mereka kesadaran akan adanya pluralitas umat Islam. Umat Islam hingga sampai saat ini telah tersebar di berbagai negara dan belahan dunia. Mulai dari negara paling Barat hingga paling Timur. Tentunya, di antara umat Islam tersebut sangat memiliki perbedaan dalam keberagamaannya. Mulai dari yang beraliran syi’ah maupun sunnah, orang kulit hitam maupun putih, mazhab yang paling liberal dan mazhab yang paling fundamental, aliran kiri maupun kanan, dan lain sebagainya.
Karena berbagai perbedaan tersebut, umat Islam harus sadar bahwa pluralitas umat Islam itu tidak bisa dihindari. Karena, berbagai hal yang mendasari adanya perbedaan, antara lain, adat-budaya, pemahaman keislaman, tingkat intelektualitas, bahasa, dan lain sebagainya. Dengan demikian, pluralitas umat Islam tersebut menjadi sebuah realitas yang niscaya ada. Meski demikian, pluralitas dan multikulturalisme umat Islam tersebut disatukan dengan kesadaran diri akan sumber dan tujuan yang sama. Dengan demikian, pada setiap momentum ibadah kaum muslimin dapat memetik hikmah tentang pentingnya pola transformasi sosial untuk selanjutnya diaktualisasikan dan diaplikasikan dalam realitas kehidupan di negeri masing-masing.
Oleh karenanya, ibadah haji menjadi patokan utama untuk membangun solidaritas sosial yang tinggi antarsesama manusia umumnya, dan antar sesama muslim khususnya. Dengan demikian, di antara mereka tidak terpecah-pecah, tidak mengalami friksi-friksi sosial yang destruktif. Sebaliknya, bangunan hidup mereka berjalan sesuai dengan posisi manusia yang suci, saling menghormati, bahu membahu, dan tolong-menolong.
Tidak ada yang superior ataupun inferior, tidak ada yang subordinat dan superordinat karena mereka semua bersumber dari Yang Satu dan berpijak pada satu tujuan bersama. Sebuah tujuan kehidupan dan hidup di bumi ini sebagai khalifah yang mendapatkan amanat dari Yang Satu, bukan untuk saling menindas dan saling menguasai, melainkan saling membaur dalam satu kebersamaan. Manusia adalah sama. Mereka terlahir untuk saling bergantung diri. Manusia dihadirkan untuk berbagi rasa dan pengalaman. Mereka mencurahkan suka dan duka atas dasar kemanusiaan, persaudaraan seagama, dan satu keturunan dari bapak dan ibu yang sama
Dengan kesadaran akan nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji, kaum muslimin akan memiliki karakter konstruktif dan dinamis, karena ibadah haji mengarahkan mereka untuk membangun persaudaraan sosial antarsesama. Persaudaraan sosial sebagai ujung tombak terbangunnya masyarakat sejahtera. Dengan demikian, gelar haji yang didapat oleh mereka selama ibadah haji bukan lagi mardud (tertolak), melainkan mabrur (diterima), yang dengan kemabruran tersebut manusia akan sealalu dituntuk untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku baik di depan masyarakat, dengan prilaku yang telah diajarkan dalam setiap langkah ketika melaksanakan ibadah haji.

Testimoni

You must be logged in to post a comment.