MENGHADIRKAN NILAI-NILAI IBADAH DI RUANG PUBLIK : Implimentasi nilai-nilai Ibadah Haji Dan Umrah

Oleh : Abdul Muiz Hazin

Nampak jelas bahwa nilai-nilai sakralitas dan makna hakiki dalam ritual ibadah mulai terkubur dalam gelombang modernisasi. Sebuah system yang selain memberikan nilai-nilai positif kepada masyarakat, juga menyumbangkan dilema tersendiri bagi masyarakat. Fragmentasi sosial, menguatnya individualitas, dan semakin rapuhnya sense of community dalam masyarakat modern, merupakan persoalan yang menjadi dilema tersendiri bagi masyarat dan khususnya bagi masyarakat agamis.

Kendati modernisme yang diikuti oleh birokratisasi dan sekularisasi institusi-institusi formal terus bergerak dalam system sosial masyarakat, akan tetapi tidak sepenuhnya mampu mengabaikan fungsi agama dalam masyarakat, dan tidak pula dapat menghilangkan secara total kecenderungan masyarakat untuk mentransformasikan nilai-nilai religius mereka.

Panjangnya antrian haji, meningkatnya jamaah umrah setiap tahunnya, dan munculnya da’i-da’i muda yang tampil berdakwa di televisi merupakan cermin dari semakin meningkatnya keperluan masyarakat akan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran agama. Lebih jauh lagi, bisa dilihat dari lahirnya institusi-institusi agama yang bangkit menorehkan kembali superioritasnya dalam institusi-institusi formal, institusi-institusi politik, institusi-institusi sosial dan lain-lain.

Anehnya, demam formalisme agama yang melanda bangsa ini, hingga melahirkan wacana penegakan syari’at Islam, penggunaan ungkapan-ungkapan Islami untuk melabel sebuah peristiwa, waktu dan tempat, diikuti dengan munculnya rangkaian permasalahan yang sangat kompleks yang tengah membelit bangsa ini, mulai wabah korupsi yang merata terjadi dari tingkat pusat sampai di tataran daerah, permasalahan degradasi moral yang akut yang berkecambah di mana-mana, tindak kekerasan dan kejahatan yang kian tidak terkendali, hingga persoalan hokum yang kian tidak jelas.

Pada kenyataannya, meningkatnya keinginan kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, bermunculannya banyak da’i-da’i yang melakukan dakwah, maraknya wacana penegakan syari’at Islam dan maraknya symbol-simbol islami dalam ranah sosial, politik dan bahkan di institusi-institusi formal, tidak tanpak mampu memberikan nilai-nilai positif dalam kehidupan masyarakat, sosial, berbangsa dan bernegara. Apakah ibadah dalam agama dan khususnya Islam memang tidak mempunyai korelasi dengan peningkatan keshalehan sosial, dan lebih khusus lagi, apakah ibadah haji dan umrah tidak mempunyai korelasi dalam peningkatan keshalehan individual dan sosial ataukah cara pelaksanaan ibadah (haji dan umrah) yang hanya menampilkan sisi formalitas, tanpa pemahaman, penghayatan dan perhatian akan hikmah dan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, merupakan cara yang kurang tepat dalam melaksanakan system ritual keagamaan (Islam).

Islam Dan Hakikat Ibadah
Melihat deskripsi di atas, maka jelaslah, formalisme menjadi sekedar ritualisme yang lebih mengutamakan pelaksanaan ungkapan-ungkapan eksternal keagamaan tanpa sungguh memahami dan menghayati maknanya, merupakan implementasi cara beragama yang kurang tepat yang tidak mempunyai dampak posistif apapun dalam kehidupan pribadi maupun sosial.Padahal sejatinya, Islam diturunkan dengan citra dan visi spiritual sebagai penebar rahmat, menjadi pembebas bagi kaum tertindas, pembebas manusia dari segala bentuk “alienasi” dan segala bentuk anti kemanusian dan ketidak adilan.

Islam merupakan agama dengan gerakan spiritual, moral, budaya, politik dan ekonomi yang berprinsipkan keadilan, yang merupakan jawaban terhadap system dan budaya Arab yang waktu itu mengalami pembusukan, ketidak adilan dan “dehumanisasi”. Oleh karenanya, semua ajaran Islam baik dalam bentuk system kepercayaan (teologi), akhlak, ibadah maupun mu’amalah, berorientasikan pada pembangunan keshalehan individual yang akan berimplikasi pada pembangunan keshalehan sosial.

Pada prinsipnya pengabdian manusia (ibadah) merupakan sari pati dari ajaran Islam yang mempunyai arti penyerahan diri secara total pada kehendak Allah SWT. Secara etimologi, kata ibadah mempunyai tiga makna yaitu ta’at, tunduk dan hina, serta pengabdian. Sedangkan secara istilah, pengertian ibadah tidak hanya terbatas pada perbuatan individual dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, akan tetapi beramal baik kepada sesama manusia juga termasuk ibadah, yaitu ibadah yang dikenal sebagai muamalah, satu istilah yang mengacu kepada suatu ibadah dengan cara berbuat dan beramal baik sesama manusia lewat berbagai macam cara, yang berkaitan erat dengan “hablum minannaas” (menjaga hubungan baik dengan sesama manusia).

Menghadirkan Makna ibadah Haji dan Umrah di Ruang Publik
Implimentasi dari perbuatan ibadah dalam sikap dan perilaku manusia yang melaksanakan, akan melahirkan suatu keyakinan dan sikap untuk tetap mengabdikan diri kepada Allah SWT dan akan terwujudkan dalam bentuk amal keseharian yang menjadikan maslahah dalam kehidupan sosial (keshalelahan sosial).

Sama dengan semua ibadah, umrah dan haji adalah ibadah yang sarat dengan nilai-nilai hakiki, hikmah dan nilai-nilai filosofis yang mempunyai imlikasi pada pembangunan keshalehan individual dan sosial. Nilai-nilai filosofis dan hikmah yang terkandung dalam ibadah haji dan umrah serta di dalam setiap ritual proses pelaksanaannya, mulai dari iharam, thawaf, sa’i, tahallul dan lain-lain, merupakan sebuah sarana untuk membangun sikap manusia dalam setiap gerak kesehariannya, sikap yang berpandukan pada nilai-nilai ke-Tuhan-an, ukhuwah, persamaan hak setiap manusia di mata Tuhan, kebersamaan, saling tolong-menolong dan lain-lain.

Ketika makna hakiki dan nilai-nilai filosofi ini tidak manpu diimplimentasikan di tanah air pasca pelaksanaan ibadah, maka sesungguhnya pelaksanaan ibadah tersebut tidak akan mempunyai nilai di hadapan Allah, karena nilai mabrur dalam ibadah haji dan umrah, bukan hanya ketika jamaah bisa mencium hajar aswad, bukan juga ketika jamaah bisa beribadah dan menangisi dosa-dosa diri di depan Ka’bah saja, tetapi ketika nilai-nilai ibadah tersebut mampu di hayati dan dijadikan sikap yang nyata oleh setiap jamaah ditengah kehidupan masyarakat, khususnya tentang realitas jurang sosial sebagai tantangan nilai-nilai yang tidak islami dalam masyarakat sekarang.

Nilai mabrur ibadah haji dan umrah, juga bukan terletak pada penataan ruang-ruang di rumah dengan berbagai macam cederamata dan hiasan-hiasan dinding bernuansakan islami dan Timur Tengah, akan tetapi kesadaran diri sebagai manusia yang ditunjuk oleh sang Khalik untuk menjadi khalifah di bumi dengan menebarkan sikap dan perbuatan baik di antara sesama, adalah sebuah tanda akan kemabruran ibadah haji dan umrah

Testimoni

You must be logged in to post a comment.