MENGHAJIKAN ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL

Oleh : Abdul Muiz Hazin

Keinginan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan mendapatkan keridhaannya, merupakan dambaan bagi semua anak yang masih mengenal dan berpegang pada nilai-nilai relegius (agama), karena selain merupakan fitrah manusia, berbakti kepada orang tua merupakan ajaran yang sangat dianjurkan oleh agama Islam, bahkan disebutkan dalam sebuah hadith bahwa “ridha Allah terdapat dalam ridhanya kedua orang tua”.
Fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia yang berkaitan dengan praktik menghajikan kedua orang tua yang sudah meninggal, pada satu sisi dapat dilihat dari prespektif keinginan seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya, walaupun mereka berdua sudah meninggal dunia. Pada sisi lain yaitu sisi hukum Islam (fiqh), praktik ini, termasuk dalam pembahasan tentang “badal haji” selain juga berkaitan dengan masalah-masalah lain.

Badal Haji
Secara teoritis haji adalah ibadah wajib yang syaratkan hanya kepada setiap muslim yang mampu sekali dalam seumur hidupnya, yang berarti bahwa seorang muslim yang pada masa hidupnya tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji, tidak terkena “taklif”, kewajiban haji. Sedangkan pengertian badal haji adalah praktik menghajikan orang yang telah meninggal (yang belum haji) atau menghajikan orang yang sudah tidak mampu melaksanakannya (secara fisik) disebabkan oleh suatu udzur syar’i.
Berkaitan dengan praktik badal haji atau dalam istilah fiqihnya al-hajj ‘an al-ghair, Mayoritas ulama madzahib memperbolehkan. Di antara ulama empat madzhab yang memperbolehkan badal haji adalah Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Sedangkan Imam Maliki tidak memperbolehkan, kecuali kepada orang yang sebelum wafatnya sempat berwasiat agar dihajikan. Hal ini, menurut pendapatnya harus dengan harta peninggalannya sejauh tidak melebihi sepertiga.

Badal Haji Untuk Orang Tua Yang sudah Meninggal Dunia
Dalam praktik menghajikan orang tua yang sudah meninggal dunia, dilihat dari dua kaidah umum tersebut di atas, ada dua permasalahan pokok yaitu hukum menghajikan (badal haji) orang tua yang pada masa hidupnya mempunyai harta yang cukup untuk menunaikan ibadah haji. Dan yang kedua, hukum menghajikan orang tua yang sudah meninggal yang pada masa hidupnya tidak mempunyai kewajiban menunaikan ibadah haji karena tidak mempunyai harta yang cukup.
Orang tua yang sudah meninggal dunia, yang ketika masa hidupnya mempunyai harta yang cukup untuk menunaikan ibadah haji dan belum melaksanakannya, maka orang tua tersebut dapat dikategorikan sebagai orang yang mempunyai tanggungan kewajiban (hutang) menunaikan ibadah haji. Dalam masalah ini, mayoritas imam madzahib, seperti madzhab Ibn Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah Imam Syafi’i berpendapat bahwa menghajikan kedua orang tua tersebut adalah wajib, karena hutang itu wajib dibayar seperti halnya kewajiban-kewajiban lain mengenai harta, seperti kafarat, zakat nadzar dan lain-lain. Pendapat ini di dasarkan pada hadith yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas “Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Nabi SAW, Ia bertanya: “Wahai Nabi, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya? Rasulullah menjawab: Ya, hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi” (riwayat bukhari dan Nasa’i).
Sedangkan apabila orang tua tersebut pada masa hidupnya tidak mempunyai kemampuan harta untuk menunaikan ibadah haji, maka bagi anak atau ahli waris boleh untuk membadalkan haji untuk kedua orang tua tersebut, dan bukan merupakan kewajiban. Pada sisi ini, akan lebih baik bagi anak untuk mendahulukan dirinya sendiri dalam menunaikan ibadah haji, apabila mempunyai kemampuan, karena kewajiban ibadah haji adalah kewajiban dengan persyaratan tertentu. Dengan demikian, perbuatan berbakti kepada orang tua dalam bentuk menghajikan keduanya yang sudah meninggal, juga harus melihat sisi hukum dan kewajibannya sendiri.

Testimoni

You must be logged in to post a comment.