MENYELAMI MAKNA HAKIKAT TAUBAT

Oleh : Abdul Muiz Hazin

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tebaik, akan tetapi, manusia juga makhluk ciptaan Allah yang lemah, penuh salah dan dosa. Sesempurna apapun manusia – kecuali manusia yang telah mendapatkan predikat ma’sum dari Allah – selalu saja ada debu-debu lalai, salah dan dosa yang melekat pada dirinya. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh. Itulah keadaan hakiki yang kerap melekat pada diri manusia.

Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa, terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi, keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar. Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya dampak besar di sisi Allah swt. Dalam konteks ini, Sahabat Bilal Bin Sa’ad berkata : “Janganlah engkau melihat kecilnya dosa yang kamu kerjakan, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai”.

MAKNA TAUBAT
Hakikat manusia yang sulit untuk menghindari kesalahan ini, bukan menjadi dasar untuk mereka tidak dapat meraih keridhaan sang Pencipta, karena dalam ajaran Islam yang tinggi dan mulia, Allah Ta’ala telah menyediakan bagi manusia jalan-jalan berupa amalan-amalan ibadah yang bisa menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan tersebut, yaitu dengan melakukan taubat yang sungguh-sungguh, seperti yang disabdakan Rasulullah : “Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat” (HR. Ibnu Majah).
Taubat berasal dari kata-kata “taaba, yatubu” yang masdarnya adalah “taubatan” artinya pulang atau kembali, sedang taubat maksunya adalah kembali dari yang dilarang oleh Allah, kalau dalam perjalanan hidup ini, kita suka menerjang larangan-larangan Allah, melaksanakan apa-apa yang dilarang oleh-Nya, maka Taubat artinya meninggalkan larangan-larangan itu dan kembali kepada apa yang diperintah oleh Allah.

Menurut al-Ashfahany, tobat merupakan upaya meninggalkan perbuatan dosa dengan cara yang baik yang merupakan cara penyesalan yang terbaik. Dalam pengertian syara’ adalah menanggalkan perbuatan dosa karena kejelekannya, dan menyesal atas kealpaannya serta bertekad untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Sedangkan menurut al-Jailani, taubat adalah kembalinya seorang hamba dari perbuatan yang tercela menurut syara’ menuju perbuatan yang terpuji menurut syara’, serta meyakini bahwa dosa dan maksiat adalah dua hal yang menghancurkan dan menjauhkan seorang dari Allah SWT dan surganya dan menjauhi keduanya penyebab dekatnya hamba dengan Allah SWT dan surganya.

Menurut Ibnu Taimiyah taubat adalah menarik diri dari sesuatu keburukan dan kembali kepada suatu tindakan yang dapat membawa seseorang pada jalan yang ditentukan dalam ajaran agama. Taubat yang disyari’atkan adalah kembali kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala apa yang diperintah dan meninggalkan segala bentuk larangan Allah.
Dalam menguraikan tentang makna taubat, imam al-Gazali, menjelaskan taubat adalah kembali dari memperturutkan syahwat dan menaati setan kepada jalan Allah. Dalam penjelasannya, al-Gazali membagi taubat menjadi tiga macam :
1. Taubat, yaitu kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan.
2. Firor, yaitu lari dari kemaksiatan pada ketaatan, dari yang baik ke arah yang lebih baik.
3. Inabat, yaitu taubat yang berulang kali sekalipun tidak berdosa.
Sedangkan imam Zannun Al-Mishri, membagi taubat menjadi dua macam:
1. Taubat orang awam, yaitu bertaubat dari dosa.
2. Taubat orang khowas, yaitu mukmin yang beramal semata-mata karena Allah.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa perwujudan dari penyesalan dan kesungguhan untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa tersebut, merupakan inti pokok dari pelaksanaan taubat, selain juga pandangan pelaku taubat akan dosa dan kesalahan yang dilakukan olehnya. Hal ini selaras dengan hadis Rasulullah, “Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus”. Selain itu, ungkapan para Sahabat Rasul juga menjelaskan tentang makna yang sama, seperti yang dikatakan oleh Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”

Testimoni

You must be logged in to post a comment.