SHALAT ARBA’IN

Oleh : K. H. Khudri Ramli

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra. Bahwa Rasulullah Saw. bersabda :
“Barangsiapa melakukan shalat di masjidku sebanyak empat puluh kali tanpa putus (tak terlewatkan) satu kali shalatpun, maka akan dicatat baginya; bebas dari neraka, bebas dari siksa dan terhindar dari kemunafikan.”
(HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanat yang shahih).

Pada suatu ketika, Saiyidina ‘Ali bin Abi Tholib Ra. melihat beberapa orang melakukan shalat sunnah di lapangan sebelum shalt Idul Fitri. Beliau berkomentar, “ Setahu saya shalat yang mereka lakukan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para shahbat di zamannya.” Yang mendengar komentar itu menanggapinya seraya berkata: “ Apakah tak sebaiknya anda melarangnya.” Dengan tegas Saiyidana ‘Ali menjawab, “ Tidak! Saya khawatirtermasuk dalam golongan orang yang dikecam Allah Swt. “AROAITALLADZI YANHA ‘ABDAN IDZA SHALLA.” ( Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat ). (Al-‘Alaq : 9-10 ).
Sabda Rasulullah Saw. yang tertera di awal tulisan ini dijadikan pegangan oleh jutaan ummat Islam yang sedang berada di Madinah untuk melakukan shalat yang dikenal Shalat Arba’in yakni melakasanakan shalat lima waktu sebanyak empat puluh (40) kali tanpa absen satu kalipun. Tentu untuk mencapai target 40 kali itu perlu waktu delapan hari. Tak heran jika setelah dikumandangkan adzan yang terdengar dari puncak-puncak menara masjid Nabawi, kita saksikan ribuan jama ‘ah yang bermunculan datang dari setiap sudut dan semua arah berbondong-bondong membanjiri masjid itu. Maklum, amal yang paling disenangi Allah Swt. adalah melaksanakan shalat diawal waktu. Dan selain hadits tersebut diatas, mereka juga termutifasi oleh hadits lain yang lebih umum, “ Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu (1000) kali di selainnya, kecuali Masjidil Haram.” ( Dawuh Rasul ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abi Hurairah Ra.).
Sungguh sangat disayangkan jika pada saat jama’ah begitu tinggi semangatnya, memaksimalkan ibadah selama ada di kota Rasul Saw, justru ada orang yang melemahkan semangat itu dengan mengatakan : “Ah, kita tak perlu terlalu ngoyo (memaksakan diri) untuk melaksanakan shalat arba’in, sebab tidak ada landasan hukumnya. Hadits Anas bin Malik itu dho’if, lemah).”

Sebetulnya akan lebih ‘arif jika ia menganggap hadits Anas itu dhoif, cukuplah dia sendiri tidak melakukannya tanpa harus memprofokasi orang lain, sebagaimana sikap Saiyida ‘AliKarromallahu Wajhah ketika beliau melihat orang shalat di lapangan sebelum shalat Idul Fitri,’ sebab memang tidak ada contoh dari Rasulullah Saw.
Namunpun demikian barangkali ke dhoifan hadis Anas tersebut bisa kita tanggapi, sebagai berikut :

1. Jika dilihat dari sudut disiplin ilmu hadits, memang Hadits tentang shalat Arbain itu dho’if. Karena Imam Ahmad dan Imam Thabrani meriwayatkan hadits itu melalui seorang yang bernama Al-Hakim bin Musa, dari Abdurrahman bin Abi Al-Rijal, yang menerimanya dari Nubaith bin Umar dan yang terakhir ini dari shahabat Nabi, Anas bin Malik. Pakar Hadits, At-Thabari menegaskan bahwa hadits ini tidak diriwayatkan dari Anas bin Malik, tapi hanya sampai pada Nubaith bin Umar, sedang dia tidak dikenal sebagai perawi Hadits, alias Majhul.
2. Saiyid Sabiq, seorang pakar dari Mesir dalam kitabnya Fiqhus Sunnah, menegaskan sanad Hadits ini shahih.(Fiqhus Sunnah I : 646).
3. Kalaupun Hadits itu dipandang dho’if, toh tidak ada salahnya kita mengamalkannya.
Seorang Muhaddits (pakar Hadits) dan sekaligus sebagai Faqih ( Ahli Hukum Fiqih), Muhyiddin Abi Zakariya, Yahya bin Syarif, yang lebih populer dengan sebutan Imam Nawawimengatakan tidak ada salahnya menggunakan hadits dhoif’ jika hal itu untuk Lifadho-ilil A’mal, memutifasi untuk keutamaan amal.“Boleh hukumnya dan disukai (mustahab) melakukan sesuatu dalam keutamaan, anjuran (targhib), ancaman (Tarhib) dengan berpedoman pada hadits dho’if sepanjang kedho’ifannya itu tidak sampai berstatus madhu’ , hadits palsu .” (Al-Adzkar : 14 ).
Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, ada baiknya kita simak pernyataan Syaikh Abubakar Jabir Al-Jaziri; “Ada anjuran shalat Arba’in di masjid Nabawi.” ( MinhajulMuslim Hal. 364 ).
Untuk mengakhiri uraian yang tak seberapa ini, saya mengajak para pembaca untuk lebih menangkap dan mengahayati hadits yang juga menggunakan kata Arba’in, diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dengan nilai hasan ( hampir mencapai derajat Shahih).
Nabi Saw. bersabda :
“Barangsiapa yang shalat berjama’ah selama empat puluh hari, ia mendapati takbiratul Ihram (bersama Imam), maka dicatat baginya dengan dua kebebasan: kebebasan dari siksa neraka dan kebebasan dari kemunafikan.”
Hadits yang tidak begitu dikenal dan sekaligus tidak banyak diamalkan ini, walaupun statusnya dan derajanya lebih baik, mengandung beberapa perbedaan kalau dibanding dengan hadits yang termasyhur dan banyak diamaalkan, yaitu :
1. Hadits riwayat At-Tirmidzi ini menyebutkan empat puluh (40) hari, bukan 40 kali shalat.
2. Dengan berjama’ah serta mendapatkan takbiratul ihram (takbir permulaan ) di awal shalat. ( Kalimat berjama’ah dan mendapatkan takbirotul ihram ) tidak terdapat dalam hadits Anas ).
3. Hadits ini menyebutkan dua kebebasan, sedang hadits Anas menyebutkan tiga kebebasan.

Testimoni

You must be logged in to post a comment.