UMRAH SEBAGAI HAJI KECIL Antara Haji Akbar dan Haji Ashgar

Oleh : Abdul Muiz Hazin

Kata umrah berasal dari bahasa Arab “عمرة” yang diambil dari perkataan “اعتمار“ bermakna “ziarah”. Syeikh Abdul Fattah Husein Rawah al-Makki dalam kitab “Al-Ifshal ‘ala Masa’il al-‘Idhah” berpendapat bahwa kata (lafadz) umrah dapat diartikan sebagai haji, bahkan beliau menukil pendapat Syeikh Al-Shaidalami dalam kitab “Hasyiyah”nya yang berpendapat bahwa dalam pengertian syari’ah, umrah juga dinamakan haji berdasarkan hadis Rasulullah SAW.
Dalam istilah teknis syari’ah, umrah adalah berkunjung ke “Baitullah” untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan, yaitu melaksanakan Tawaf di Baitullah, Sa’i antara bukit Shafa dan bukit Marwah dan diakhiri dengan tahallul. Semua amaliyah tersebut dilaksanakan setelah melakukan niat ihram dari Miqat.

Perbedaan dan Persamaan Ibadah Haji dan Umrah
Berbeda dengan ibadah haji yang status hukum pelaksanaannya sudah disepakati (ijmak) ulamak berdasarkan nash-nash yang shoreh, status hukum pelaksanaan ibadah umrah terjadi ikhtilaf di kalangan ulmak. Sebagian ulamak berpendapat bahwa status hukum ibadah umrah adalah sunnat muakkadah, sedangkan sebagian yang lain berpendapat wajib.
Selain perbedaan dalam masalah hukum, dari segi manasik (proses pelaksanaannya), dalam ibadah haji terdapat wukuf di arafah, mabit di mudzdalifah dan di mina, melempar jumrah aqabah dan jamarat (ula, wustha dan aqabah) pada hari-hari tasyrik. Sedangkan dalam ibadah umrah, hanya terdiri dari niat ihram, thawaf, sa’i, dan tahallul (yang merupakan sebagian dari proses manasik ibadah haji).
Dari sisi “miqat maqani” (tempat awal dimulainya) tidak ada perbedaan antara ibadah haji dan umrah kecuali bagi ahli Makkah (penduduk kota Makkah). Sedangkan dari segi waktu pelaksanaan (miqat zamani), ibadah haji harus dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu yang telah ditentukan dalam syari’at yaitu bulan-bulan tertentu yang tidak sah niat ihram haji kecuali dilaksanakan dalam bulan-bulan tersebut (syawal, dzulqo’dah, dan 10 hari pertama dari bulan dzulhijjah).
Sedangkan waktu pelaksanaan (miqat zamani) ibadah umrah, mayoritas ulama sepakat bahwa umrah dapat dilaksanakan sepanjang tahun kecuali bagi orang-orang yang sedang melaksankan ihram haji. Pendapat ini merupakan pendapat yang shoheh dari pendapat Imam Syafi’i dan madzhab Syafi’iyah. Senada dengan pendapat Imam Syafi’i dan mayoritas ulama’, Imam Malik membolehkan umrah sepanjang tahun, kecuali bagi orang yang sedang melaksanakan ihram haji. Sedangkan imam Ahmad bin Hanbal dan imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa umrah pada lima hari (Hari Arafah, Hari Nahar dan tiga hari Tasyriq) hukumnya makruh.
Berkaitan dengan pelaksanaan ibadah umrah ini, para ulama’ juga berbeda pendapat tentang boleh-tidaknya memperbanyak (iktsar) dan atau berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu tahun. Imam Malik dan mayoritas pengikutnya menghukumi makruh, sedangkan imam Syafi’i dan mayoritas ulama’ berpendapat bahwa “iktsar” (memperbanyak) atau berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu tahun, khususnya pada bulan ramadhan, hukumnya “mustahabbah” (sunnat). Pendapat ini dikuatkan oleh pengikut beliau, Imam Nawawi, dalam kitab “idhah al-manasik al-hajji wa al-umrah” dan kitab “Shohih Muslim bi Syarhih al-Nawawi”. Sedangkan menurut ulama’ yang lain, termasuk imam Ahmad ibn Hanbal dan imam Abu Hanifah, “iktsar” (memperbanyak) atau berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu tahun hukumnya boleh. Dengan demikian, pendapat yang mengatakan bahwa “iktsar” (memperbanyak) atau berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu tahun, tidak boleh, haram, bahkan “bid’ah dhalalah” adalah pendapat yang tidak berdasar, pendapat yang menyalahi pendapat para ulama’ karena tidak ada satupun pendapat yang mengharamkan dan mem-bid’ah-kan.

Haji Akbar dan Haji Ashgar
Perbincangan tentang masalah di atas, juga terkait dengan pengistilahan “haji akbar” dan “haji Ashgar” yang sudah masyhur di kalangan masyarakat umum. Pemahaman masyarakat bahwa ibadah umrah dinamakan (diistilahkan) sebagai haji kecil (haji ashgar), bukan pemahaman yang tidak mempunyai dasar, tetapi pemahaman yang didasarkan pada pendapat mayoritas ahli ilmu. Pemahaman ini berbanding terbalik dengan pemahaman mereka (masyarakat umum) tentang penamaan “haji akbar” yang mereka artikan sebagai haji yang waktu wukufnya bertepatan dengan hari jum’at. Jelas pemahaman yang masyhur dikalangan masyarakat umum tentang “haji akbar” tersebut tidak didasarkan pada pemahaman yang shohih yang berasal dari ahli ilmu.
Dalam kitab “Syarh Sahih Muslim” imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai “haji akbar”, ada yang berpendapat hari Arafah sebagai “haji akbar”, sedangkan imam Malik, imam Syafi’i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa haji akbar bertepatan dengan hari Nahr (tanggal 10 dzul hijjah) berdasarkan hadis Abu Hurairah tentang pengumuman Shahabat Abu Bakar as-Siddiq kepada masyarakat pada hari Nahr (Idul Adha) yang diriwayatkan oleh imam Muslim. Pengistilahan haji akbar ini, menurut sebagian ulama, untuk membedakannya dengan haji ashgar, yaitu umrah.
Senada dengan imam Nawawi, imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” mengatakan, bahwa ulama berbeda pendapat tentang makna haji asghar. Mayoritas ulama berpendapat bahwa haji asghar adalah umrah, sedangkan sebagian kecil mengatakan, haji asghar adalah hari arafah (9 Dzulhijah) dan haji akbar adalah hari nahr, karena hari nahr merupakan penyempurna kegiatan manasik haji yang belum dilakukan. Begitu juga dengan imam Qurtubi dalam kitab tafsirnya, beliau merujuk riwayat dari imam ‘Atha’ bahwa haji akbar bertepatan dengan hari arafah, sedangkan yang dimaksud dengan haji ashgar adalah ibadah umrah. Sedangkan imam Baghawi dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan dengan merujuk pendapat imam Zuhri dan imam Sya’abi bahwa yang dimaksudkan dengan haji akbar adalah ibadah haji, sedangkan haji ashgar adalah ibadah umrah dan penamaan ibadah umrah sebagai haji ashgar karena kurangnya amaliyah-amaliyahnya dibandingkan dengan ibadah haji.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan haji akbar adalah ibadah haji secara umum tanpa melihat apakah waktu wukufnya bertepatan dengan hari jum’at atapun tidak. Sedangkan ibadah umrah disebut dengan haji ashgar menurut mayoritas pendapat ulamak. Pengistilahan ibadah umrah dengan sebutan haji ashgar (haji kecil), akan sangat logis apabila dilihat dari sisi amaliyah-amaliyahnya yang merupakan sebagian dari amliyah-amaliyah dalam ibadah haji. Dengan demikian, penggunaan lafadz “haji” dalam beberapa do’a, seperti “allahumma ij’al hajjana hajjan mabrura”, yang juga dibaca dalam proses pelaksanaan umrah merupakan hal yang dibenarkan, baik secara “lafdzi” (kata) maupun “syar’i” (syari’at).

Testimoni

You must be logged in to post a comment.